The Unspoken

just another cup of milk

Mimpi siang bolong October 30, 2010

Filed under: Uncategorized — seconds2minutes @ 8:35 am

Di masa-masa akut menjelang ujian kaya gini emang paling enak nulis blog..

Biasanya otak sudah tidak dapat berpikir bijak. Dan lebih sering ide-ide menarik yang jarang terfikirkan mucul di saat yang tidak seharusnya.

Salah satu ide menarik yang muncul adalah keinginan untuk menjadi dosen. Bukan dosen  biasa, tapi dosen super pintar seperti salah satu dosen Ilmu Penyakit Dalam yang dimiliki FK Unpad.

Tapi kalo dipikir lagi, sebetulnya gimana ya cara biar bisa jadi dosen kaya gitu? Apa emang semasa kuliahnya belajar tiada tara? Merhatiin setiap lecture dan setiap temen bacain LI, selalu bikin review kasus diakhir minggu, semangat empat lima saat lab (yang notabene saya ga pernah ga ngantuk kalo lagi lab), skill lab selalu jadi volunter karena udah hafal betul materinya, baca komik pas mau MDE (karena 7 minggu kasus selalu begadang belajar ampe malem), dan lain-lain.

Begitukah dok? Karena kalau syaratnya itu, berarti saya masuk kategori non eligible buat jadi seperti dokter Ilmu Penyakit Dalam tersebut.

Ide menarik lainnya adalah ide-ide yang sudah pernah difikirkan sebelumnya. Diantaranya, mau jadi dokter yang bekerja di daerah terpencil (seyogyanya setelah cukup mapan)

Bekerja di rumah sakit swasta ternama di Jakarta adalah salah satu impian saya sejak memasuki FK Unpad ini. Siapa juga yang ga mau kerja di rumah sakit jadi dokter sukses yang pasiennya banyak, dan alhamdulilah rejekinya juga banyak. Tidak bisa dipungkiri, mengais nafkah menjadi salah satu kebutuhan pokok dan keberuntungan bekerja di profesi ini (mudah-mudahan)

Tapi setelah komersil kaya gitu, saya kembali mengingat tujuan utama menjadi dokter (ceritanya tujuan yang mulia), mengabdi pada masyarakat. Dan pilihannya jatuh ke dua tempat, ambil Ilmu Kesehatan Masyarakat atau jadi dokter di puskesmas pelosok.

Lalu kendalanya apa? Salah satunya adalah karena di saat saya punya suami nanti, tentu saya nggak bisa seenaknya mau kerja di pelosok. Ngga mungkin kan saya ngelamar kerja di puskesmas di gorontalo sementara suami saya di jakarta.

Ide lain yang muncul adalah punya bisnis. Bisnis restoran, toko kue, punya yayasan, punya sekolah, punya rumah sakit bareng temen-temen, dan lain-lain. Untungnya ide-ide ini hanya muncul dan mengisi otak selama beberapa menit, sehingga ngga mengganggu proses saya mempelajari emphysema dan teman-temannya.

Yaah..setidaknya bermimpilah setinggi mungkin, mumpung bermimpi itu gratis.

Dan sekarang balon-balon mimpi itu harus saya kempesin dulu, taro di folder paling belakang di cerebrum, karena saya harus kembali ke realitas dan berkutat dengan tuberkulosis. yeaaayyyy

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.